Error message

  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).
  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).
  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).
  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).
  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).
  • Warning: Illegal string offset 'field' in DatabaseCondition->__clone() (line 1817 of /home/bahasaku/public_html/includes/database/query.inc).

Linguistik

Tabu dalam Kehidupan Kita

Lama sudah tidak menulis karena berbagai kesibukan yang sempat membekukan keinginan untuk menuangkan ide di situs ini. Rasa bersalah juga muncul karenanya. Sebenarnya saya sudah diingatkan berulang-ulang untuk menulis saat menjumpai berbagai "momen" bahasa. Keinginan untuk menulis lagi pun tak tertahankan ketikan mendengar kata-kata seperti "shit" dan "asshole" baik di dunia nyata maupun di layar kaca. Saya yakin tidak jarang kita menjumpai kata-kata yang berbau tabu dalam masyarakat kita. Jika berbicara tentang tabu, maka kita tidak bisa melupakan bahwa label itu terbentuk atas persepsi masyarakat. Makna terbentuk dalam realitas sosial masyarakat. Kita secara tidak sadar mengikuti lingkungan kita dalam memberikan makna pada entitas seperti tanda, gagasan, dan kata. Tabu bukanlah hal yang baru dalam linguistik, tetapi kata-kata tabu merupakan hal yang menarik untuk dibahas.

Pendapat Seputar Gagasan Populer Pembelajaran Bahasa

Kemampuan berbahasa manusia merupakan salah satu anugrah terindah yang menarik perhatian para filsuf, linguis, pendidik dan pemerhati bahasa. Pertanyaan seputar bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan topik yang tiada hentinya dibahas. Gagasan dan pertanyaan memunculkan teori-teori baru. Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan populer yang disertai pendapat singkat mengenai pembelajaran bahasa.

Apakah bahasa diperoleh hanya melalui imitasi? Atau adakah proses yang lain?

Ada pandangan bahwa bahasa dipelajari melalui imitasi, yang berarti seorang anak meniru dan mengulangi kata-kata yang didengarnya. Melalui imitasi yang berulang-ulang, anak-anak belajar  melafalkan bunyi dan kata-kata. Proses ini tentu saja membantu pelafalan atau produksi ujaran anak. Namun demikian, proses pembelajaran bahasa tidak hanya diperoleh melalui imitasi. Menurut Steinberg, Nagata dan Aline (2001:41) imitation can apply only to speech production and not to speech comprehension, yaitu imitasi dapat diterapkan dalam produksi ujaran tetapi tidak pada pemahaman ujaran. Padahal saat kita mempelajari bahasa, pemahaman mendahului produksi sehingga pemerolehan bahasa memerlukan proses lain selain imitasi. Tulisan ini menguraikan alasan-alasan mengapa penulis tidak setuju dengan pandangan bahwa  bahasa hanya diperoleh melalui imitasi.

Permainan Bahasa: Stand Up Comedy

Humor tidak harus mengandung unsur kekerasan dengan alat-alat buatan berbahan dasar gabus. Juga tidak harus berbau "kebanci-bancian" demi nilai hiburan. Kita mulai mengenal, dan mungkin sayang, dengan jenis humor monolog, atau yang dikenal dengan stand up comedy.  Tanpa memerlukan properti panggung yang mahal dan dekoratif, stand up comedy menawarkan guyonan-guyonan cerdas. Salah satu keistimewaan humor ini adalah kreativitas dan keberanian komedian untuk memperkosa fitur-fitur linguistik, dan membuat isinya menggelitik dan menarik.

Bahasa dan Budaya: Pengamatan Awal

Hubungan antara bahasa dan budaya merupakan topik tua, tetapi tetap mempesona. Wilhem von Humboldt melihat perbedaan bahasa sebagai pembawa perbedaan perspektif kognitif dan perbedaan pandangan dunia. Kemudian, Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf dalam hipotesis mereka meyatakan bahwa bahasa membentuk persepsi manusia terhadap realitas dunia. Sapir dalam bukunya Language (1921) membahas kaitan tak langsung antara bahasa dan budaya. Dalam pengamatan kecil ini disinggung beberapa aspek kebahasaan yang memunyai endapan budaya dari sebuah masyarakat penuturnya seperti aspek leksikon, aspek retorika, dan aspek kesantunan (pragmatic).

Metafora Cinta

Metafora mencerminkan pikiran dan mental yang kita peroleh dari pengalaman saat bertumbuh dewasa. Metafora merupakan gejala yang merembesi bahasa dan pikiran kita. Biasanya metafora menggambarkan sesuatu yang sifatnya abstrak ke ranah yang lebih mendekati kita secara fisik. Secara tidak sadar, kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam serta sosial kita ketika menciptakan atau mengungkapkan metafora.

Pages

Subscribe to RSS - Linguistik